Senin, 26 November 2012

CLIENT CENTERED THERAPY (CCT)


MAKALAH
CLIENT CENTERED TERAPY (CCT)
Di susun oleh :
1.    Ajudan Fadol (1105095119)
2.    Andi Sitti Humaerah(1105095076)
3.    Hamri Bid(1105095055)
4.    Idalilah(1105095099)
5.    Safar Sulviana(1105095089)
6.    Siti Rahayu Rahmah(1105095061)
PROGRAM STUDI BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2011/2012

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Lia adalah siswa kelas II SMA favorit Samarinda yang baru saja naik kelas II. Ia berasal dari keluarga nelayan yang terbilang cukup secara sosial ekonomi di desa pedalaman + 45 km di luar kota Samarinda, sebagai anak pertama semula orang tuanya berkeberatan setamat SMP anaknya melanjutkan ke SMA di Samarinda. Orang tua sebetulnya berharap agar anaknya tidak perlu susah-susah melanjutkan sekolah ke kota, tapi atas bujukan wali kelas anaknya saat pengambilan STTB dengan berat merelakan anaknya melanjutkan sekolah.
Pertimbangan wali kelasnya karena Lia terbilang cerdas diantara teman-teman yang lain sehingga wajar jika bisa diterima di SMU favorit. Sejak diterima di SMA favorit di satu pihak, Lia bangga sebagai anak desa toh bisa diterima, tetapi di lain pihak mulai minder dengan teman-temannya yang sebagian besar dari keluarga kaya dengan pola pergaulan yang begitu beda dengan latar belakang Lia. Ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois, kurang bersahabat, pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja, dan sombong.
Makin lama perasaan ditolak, terisolik, dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya tidak betah, tetapi mau keluar malu dengan orang tua dan temannya sekampung, jika terus bertahan susah tak ada/punya teman yang peduli. Dasar saya anak desa, anak miskin (dibanding teman-temannya di kota) hujatnya pada diri sendiri. Akhirnya Lia benar-benar menjadi anak minder, pemalu dan serta ragu dan takut bergaul sebagaimana mestinya. Makin lama nilainya makin jatuh sehingga beban pikiran dan perasaan makin berat, sampai-sampai ragu apakah bisa naik kelas atau tidak.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang di dapat dari latar belakang yaitu Bagaimana cara mengentaskan masalah kesulitan belajar akibat rasa minder  dengan menggunakan pendekatan client centered therapy?


C.    Tujuan
            Tujuan dari disusunnya makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana mengentaskan masalah kesulitan belajar akibat rasa minder dengan menggunakan pendekatan Client Center Theraphy.

D. Manfaat
1.      Untuk konseli, Menjadi lebih terbuka dalam menyampaikan masalah yang sedang dihadapi
2.      Untuk konselor, agar Memperoleh pengalaman menangani kasus bidang belajar, khususnya kasus tentang kesulitan belajar akibat rasa minder.
3.      Untuk orang tua, agar lebih mengenal anaknya dan dapat membantu masalah yang di hadapi oleh anaknya.
4.      Untuk guru wali kelas, agar dapat mengenal dan mengetahui masalah yang di hadapi oleh siswanya, khususnya pada masalah kesulitan belajar akibat rasa minder.
BAB II
DASAR TEORI

A.    Konsep Dasar Client Centered Therapy
Konsep dasar dari client-centered therapy adalah bahwa inidividu memiliki kecenderungan untuk mengakutalisasikan diri (actualizing tendencies) yang berfungsi satu sama lain dalam sebuah organisme. Para terapis lebih terfokus pada “potensi apa yang dapat dimanfaatkan”. Didalam terapi, terdapat dua kondisi inti: congruence dan unconditional positive regard. Congruence merujuk pada bagaimana terapis dapat mengasimilasikan dan menggiring pengalaman agar klien sadar dan memaknai pengalaman tersebut. Unconditional positive regard adalah bagaimana terapis dapat menerima klien apa adanya, di mana terapis membiarkan dan menerima apa yang klien ucapkan, pikirkan, dan lakukan. Di samping itu , terdapat juga sejumlah konsep dasar dari sisi klien, yakni self-concept, locus of evaluation, dan experiencing Self concept merujuk pada bagaimana klien memandang-memikirkan-menghargai diri sendiri. Locus of evaluation merujuk dari sudut pandang mana klien menilai diri. Orang yang bermasalah akan terlalu menilai diri mereka berdasar persepsi orang lain (eksternal). Experiencing, adalah proses di mana klien mengubah pola pandangnya, dari yang kaku dan terbatas menjadi lebih terbuka.
·         Ada beberapa konsep-konsep kepribadian yang dikemukakan Rogers, yaitu:
a.       Pengalaman, yakni alam subjektif dari individual, di mana hanya indidivu spesifik yang benar-benar memahami alam subjektif dirinya sendiri;
b.      Realitas, yaitu persepsi individual terhadap lingkungan sekitarnya yang subjektif, di mana perubahan terhadap persepsi akan memengaruhi pandangan individu terhadap dirinya;
c.       Kecenderungan individu untuk bereaksi sebagai keseluruhan yang beraturan (organized whole), di mana individu cenderung bereaksi terhadap apa yang penting bagi mereka (skala prioritas);
d.      Kecenderungan individu untuk melakukan aktualisasi, di mana individu pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk menunjukkan potensi diri mereka, bahkan meskipun apa yang mereka lakukan (dan pikirkan) irasional;
e.       Kerangka acuan internal yakni bagaimana individu memandang dunia dengan cara unik mereka sendiri;
f.       Self atau diri, yakni bagaimana individu memandang secara keseluruhan hubungan  aku (I) dan diriku (me), dan bagaimana hubungan keduanya dengan lingkungan;
g.      Simbolisasi, di mana individu menjadi sadar dengan pengalamannya, dan simbolisasi itu seringkali muncul secara konsisten dengan konsep diri;
h.      Penyesuaian psikologis, di mana keberadaan congruence antara konsep diri dan persepsi individu akan menjadikan individu dapat melakukan penyesuaian psikologis (dan sebaliknya);
i.        Proses penilaian organis, di mana individu membuat penilaian pribadi berdasarkan nilai yang dianutnya; dan
j.        Orang yang berfungsi sepenuhnya, di mana orang-orang seperti ini adalah mereka yang mampu merasakan pengalamannya, terbuka terhadap pengalaman, dan tidak takut akan apa yang mereka sedang dan mungkin alami.

B.     Pandangan Terhadap Manusia
Carl Rogers memandang manusia, dalam hal ini klien, dengan berorientasi kepada filsafat humanistik, yaitu
1.      Inti sifat manusia adalah positif, sosial, menuju ke muka, dan realistik. Yang berarti pada dasarnya manusia itu bersifat positif, rasional, sosial, bergerak maju, dan realistik.tingkah laku manusia diorganisir secara keseluruhan di sekitar tendensi, dan polanya ditentukan oleh kemampuan untuk membedakan antara respon yang efektif (menghasilkan rasa senang) dan respon yang tidak efektif (menimbulkan rasa tidak senang).
2.      Manusia pada dasarnya adalah kooperatif, konstruktif dan dapat dipercaya.
3.      Manusia memiliki tendensi dan usaha dasar untuk mengaktualisasi pribadi, berprestasi, dan mempertahankan diri.
4.      Manusia memiliki kemampuan dasar untuk memilih tujuan yang benar, dan membuat pilihan yang benar, apabila ia diberi situasi yang bebas dari ancama. (Sukardi, 1984)

C.    Hakikat Manusia Menurut Pandangan Carl Rogers
1.      Hakikat manusia pada dasarnya baik dan penuh dengan ke positifan.
2.      Manusia mempunyai kemampuan untuk membimbing, mengatur dan mengontrol dirinya sendiri.
3.      Setiap individu pada dirinya terkandung hati penggerak yakni terbuka terhadap pengalaman sendiri, hidup berdasarkan pada kenyataan serta percaya pada diri sendiri.
4.      Setiap individu mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri, serta mempunyai dorongan yang kuat kearah kedewasaan dan kemerdekaan.

D.    Hubungan Antara Terapi Dan Klien
Client-centered therapy(CCT) menekankan pada sikap dan kepercayaan dalam proses terapi antara terapis dengan klien. Efektifitas dari pendekatan terapi ini adalah pada sifat kehangatan, ketulusan, penerimaan nonposesif dan empati yang akurat. Client-centered therapy beranggapan bahwa klien sanggup menentukan dan menjernihkan tujuan-tujuannya sendiri. Perlu adanya respek terhadap klien dan keberanian pada seorang terapis untuk mendorong klien agar bersedia mendengarkan dirinya sendiri dan mengikuti arah-arahannya sendiri terutama pada saat klien membuat pilihan-pilihan yang bukan merupakan pilihan yang diharapkan terapis. CCT membangun hubungan yang membantu, dimana klien akan mengalami kebebasan untuk mengeksplorasi area-area kehidupannya yang sekarang diingkari atau didistorsinya. Dalam Suasana ini klien merupakan narator aktif yang membangun terapi secara interaktif dan sinergis untuk perubahan yang positif. CCT cenderung spontan dan responsif terhadap permintaan klien bila memungkinkan. Seperti permintaan untuk mengubah jadwal terapi dan membuat panggilan telepon pada terapis.
Contoh-contoh dalam 3 macam formulasi kualitas terapis Rogers; yaitucongruence, ketika seorang klien mengatakan keengganannya mengunjungi terapi karena baginya membuang-buang waktu sang terapis. Maka sikap terapis yang ditunjukkan bahwa bagi sang terapis hal ini tidak akan mebuang-buang waktunya dan mengungkapkan bahwa terapi ingin bertemu dengan klien dilain waktu lagi jika terapis bersedia; unconditional positive regard, ketika terapis mengatakan bahwa masalahnya tidak akan berhasil diselesaikan maka terapis dapat bersikap dengan memberikan percayaan pada klien bahwa ia dapat menyelesaikan masalahnya dan terapis akan menerima klien apabila ia bersedia dating kembali; dan empathic understanding of the client’s internal frame of reference, saat klien menceritakan suatu kejadian, maka terapis mencoba memahami situasi saat itu yang terjadi pada klien dan mencoba mendapatkan tanggapan kembali dari klien dengan lebih banyak informasi.

E.     Teknik Konseling
Adapun teknik konseling yang digunakan dalam clien center therapy adalah sebagai berikut:
1.      Aceptance (penerimaan)
2.      Respect (rasa hormat)
3.      Understanding (mengerti, memahami)
4.      Reassurance (menentramkan hati, meyakini)
5.      Encouragement (dorongan)
6.      Limited Questioning (pertanyaan terbatas)
7.      Reflection (memantulkan pertanyaan dan perasaan)

F.     Tujuan Konseling
Pada dasarnya klien sendiri menentukan tujuan konseling, konselor hanya membantu klien menjadi lebih matang dan kembali melakukan aktualisasi diri dengan menghilangkan hambatan-hambatannya. Namun secara lebih khusus membebaskan klien dari kungkungan tingkah laku (yang dipelajarinya) selama ini, yang semuanya itu membuat dirinya palsu dan terganggu dalam aktualisasi dirinya.
Tujuan Konseling adalah menyediakan iklim yang aman dan percaya dalam pengaturan konseling sedemikian sehingga konseli, dengan menggunakan hubungan konseling untuk self-exploration, dapat menjadi sadar akan blok/hambatan ke pertumbuhan. Konseli cenderung untuk bergerak ke arah lebih terbuka, kepercayaan diri lebih besar, lebih sedia untuk meningkatkan diri sebagai lawan menjadi mandeg, dan lebih hidup dari standard internal sebagai lawan mengambil ukuran eksternal untuk apa ia perlu menjadi.

G.    Fungsi dan Peran Terapis
Fungsi terapis adalah membangun suatu iklim terapeutik yang menunjang pertumbuhan klien..terapis tidak dibatasi dalam bentuk bantuan yang dapat diberikan kepada klien bahwa klien-terapis berpusat dapat berfungsi sebagai sumber informasi tentang terapi lain atau perawatan dan sebagai orang yang membantu klien memanfaatkan terapi atau perawatan yang diberikan oleh orang lain Kadang-kadang membantu klien memanfaatkan terapi lain berarti meminimalkan kerusakan mereka ke klien yang terjadi seperti yang menguntungkan dia. Sampai pembantu lain, dokter, terapis psikologis dan perilaku, psychopharmacologists, dll, adalah, diri mereka sendiri, orang-berpusat tetap kasus bahwa banyak dari ahli melanggar hal-sendiri atau otonomi pasien dan klien mereka.
Terapi berpusat pada klien tidak menciptakan sebuah lingkungan di mana terapis akan memberitahu pasien apa yang dia harus berpikir atau lakukan. Alih-alih memberikan jawaban atau solusi untuk pasien, peran terapis adalah membantu pasien dalam menemukan jawaban sendiri. Proses, sementara kadang-kadang lambat dan tidak praktis, memiliki manfaat membantu pasien mengembangkan keyakinan pada kemampuannya untuk menghadapi situasi kehidupan, memeriksa mereka, dan akhirnya menemukan cara untuk secara efektif menangani mereka.
Terapis berfugsi terutama sebagai penunjang pertumbuhan pribadi seseorang dengan jalan membantunya dalam menemukan kesanggupan-kesanggupan untuk memecahkan masalah-masalah. Pendekatan person centered ini menaruh kepercayaan yang besar pada kesanggupan seseorang untuk mengikuti jalan terapi dan menemukan arahnya sendiri.
Peran terapis client centered berakar pada cara-cara keberadaanya dan sikap-sikapnya, bukan pada penggunaan teknik-teknik yang dirancang untuk menjadikan client ‘berbuat sesuatu’. Terapis client centered membangun hubungan yang membantu dimana client akan mengalami kebebasan yang diperlukan untuk mengeksplorasikan area-area hidupnya yang sekarang didistrosinya. Client menjadi kurang defensive dan menjadi lebih terbuka terhadap kemungkinan-kemungkinan yang ada didalam dirinya maupun dalam dunia. Yang utama dan terutama, terapis harus bersedia menjadi nyata dalam hubungan dengan client.  Terapis menghadapi client berlandaskan pengalaman dari saat kesaat dam membantu client dengan jalan memasuki dunianya, melalui perhatian yang tulus, respek, penerimaan, dan pengertian terapis, sehingga client bisa menghilangkan pertahanan-pertahanan dan persepsi-persepsinya yang kaku serta bergerak menuju taraf fungsi pribadi yang lebih tinggi.

H.    Kelemahan dan kelebihan client centered therapy
a.      Kelebihan pendekatan client centered therapy
1.      Pemusatan pada klien dan bukan pada therapist
2.      Identifikasi dan hubungan terapi sebagai wahana utama dalam mengubah kepribadian.
3.      Lebih menekankan pada sikap terapi daripada teknik.
4.      Memberikan kemungkinan untuk melakukan penelitian dan penemuan kuantitatif.
5.      Penekanan emosi, perasaan, perasaan dan afektif dalam terapi
6.      Menawarkan perspektif yang lebih up-to-date dan optimis
7.      Klien memiliki pengalaman positif dalam terapi ketika mereka fokus dalam menyelesaiakan masalahnya
8.      Klien merasa mereka dapat mengekpresikan dirinya secara penuh ketika mereka mendengarkan dan tidak dijustifikasi

b.    Kekurangan Pendekatan client centered therapy
1.   Terapi berpusat pada klien dianggap terlalu sederhana
2.   Terlalu menekankan aspek afektif, emosional, perasaan
3.   Tujuan untuk setiap klien yaitu memaksimalkan diri, dirasa terlalu luas dan umum sehingga sulit untuk menilai individu.
4.   Tidak cukup sistematik dan lengkap terutama yang berkaitan dengan klien yang kecil tanggungjawabnya.
5.   Sulit bagi therapist untuk bersifat netral dalam situasi hubungan interpersonal.
6.   Teapi  menjadi tidak efektif ketika konselor terlalu non-direktif dan pasif. Mendengarkan dan bercerita saja tidaklah cukup
7.   Tidak bisa digunakan pada penderita psikopatology yang parah
8.   Minim teknik untuk membantu klien memecahkan masalahnya
BAB III
PEMBAHASAN

A.    Langkah-Langkah Pengentasan Masalah
1.      Analisis
a.       Kemajuan Akademis
Pada saat duduk di sekolah dasar (SD) Lia selalu masuk dalam peringkat tiga besar di kelasnya dari 35 siswa.  Dia juga sering mengikuti lomba cerdas cermat antar sekolah, tingkat SD. Dan Lia selalu mendapatkan dukungan dari guru-guru di sekolahnya.  Hingga Lia lulus SD dengan nilai yang baik sehingga ia dapat melanjutkan sekolah menengah pertama (SMP) di salah satu sekolah favorite di kecamatannya.
Dan saat duduk di sekolah menengah pertama (SMP), Lia adalah anak yang tergolong cerdas. Dia masuk ke kelas A yang berarti dia masuk di kelas anak yang tergolong pintar. Dia mendapatkan nilai-nilai yang baik khusunya di bidang IPA. Dia juga selalu masuk dalam peringkat 10 besar di sekolahnya. Hingga dia lulus dengan nilai-nilai yang baik dan di rekomendasikan oleh guru wali kelasnya agar melanjutkan sekolah menengah atas (SMA) di salah satu SMA favorit di Samarinda karena Lia terbilang anak yang cerdas di antara teman-temannya yang lain.
Tapi mengapa pada saat Lia duduk di bangku sekolah menengah atas (SMA), Lia mengalami kemundurun dalam prestasi belajarnya. Di karenakan Lia kurang mampu beradaptasi pada lingkungan sekolahnya. Lia selalu merasa minder terhadap teman-teman yang ada di sekolahnya. Dan akhirnya berdampak pada proses belajarnya. Jika di lihat dari nilai-nilai harian konseli dapat terlihat dengan jelas bahwa konseli mengalami kemunduran. Nilai-nilai konseli semakin hari terus menerus saja menurun. Tidak adanya kemajuan yang di berikan terhadap konseli. Sehingga Lia sekarang terancam tidak bisa naik kelas.

b.      Keadaan Fisik
Pada saat Lia kecil, Lia sering mengalami kejang-kejang, demam, dan pada saat mulai memasuki usia SD Lia juga mengalami sakit gigi, dan dia juga di diagnosa oleh dokter bahwa dia mengidap penyakit Tipes. Tetapi penyakit yang di alami oleh Lia tidak terlalu berpengaruh pada pertumbuhannya. Sehingga Konseli mengalami pertumbuhan yang sangat baik. konseli bertubuh tinggi,berambut panjang,berkulit sawo matang dan memiliki berat tubuh yang ideal. Sehingga Lia mempunyai kondisi fisik yang cukup bagus pada remaja seusia Lia.

c.       Keadaan Keluarga
Orang tua Lia tinggal di sebuah desa di daerah Muara Badak, konseli berasal dari kelurga yang berkecukup secara ekonomi di desa pedalaman ± 45 km dari kota samarinda, walaupun kedua Orang tua konseli hanya berfrofesi sebagai nelayan.  Ayah Lia setiap harinya selalu pergi mencari ikan di laut (nelayan) dan pulang pada sore hari, dan kadang-kadang ayahnya pulang pada malam hari. Sedangkan ibu Lia mempunyai sebuah usaha di rumahnya yaitu membuka toko di depan rumahnya yang mana setiap harinya banyak di kunjungi oleh masyarakat sekitarnya.
Sejak tiga tahun yang lalu kakek Lia meninggal dunia, jadi pada saat itulah nenek Lia ikut tinggal bersama ke dua orang tua Lia yang mana nenek Lia tersebut adalah orang tua dari ayah Lia. Selain nenek Lia yang tinggal di rumah tersebut juga ada seorang saudara dari ibu Lia yang tinggal di rumah tersebut.

d.      Tingkah Laku Sosial
Di dalam keluarga, Lia dapat bersosialisasi dengan baik. Dia akrab dengan semua anggota keluarganya baik dari keluarga ibunya maupun keluarga dari ayahnya.Lia di kenal sebagai anak yang terbuka, baik, dan ramah. Lia juga dapat bersosialisasi dengan baik pada masyarakat sekitarnya, dan Lia juga dapat di katakan sebagai anak yang ramah,sopan terhadap tetangganya.
Namun ketika Lia mulai melanjutkan Sekolah Menengah Atas (SMA), dia merasa   minder terhadap teman-temannya. Lia merasa malu karena teman-teman di sekolahnya kurang menerima dia. Karena dia berasal dari desa yang terpencil, lalu ia menganggap teman-teman dari keluarga kaya tersebut sebagai orang yang egois, kurang bersahabat, pilih-pilih teman yang sama-sama dari keluarga kaya saja, dan sombong. Makin lama perasaan ditolak, terisolik, dan kesepian makin mencekam dan mulai timbul sikap dan anggapan sekolahnya itu bukan untuk dirinya dan Lia menjadi tidak krasan atau tidak betah bersekolah di sekolah tersebut.


2.      Sintesis
a.       Kemajuan Akademis
Di lihat dari kemajuan akademis di atas dapat di simpulkan bahwa Lia tergolong anak yang cerdas sejak SD-SMP. Lia selalu mendapatkan peringkat di kelas dan di sekolahnya. Namun pada saat duduk di bangku SMA, Lia mengalami kemunduran dalam prestasinya yang di akibatkan oleh rasa mindernya. Dan nilai-nilai Lia semakin hari mengalami kemunduran dan tidak ada tampak kemajuan yang di berikan oleh Lia.
b.      Keadaan Fisik
Di lihat dari keadadan fisik di atas dapat di simpulkan bahwa Lia sering sakit-sakitan hingga sekarang, tetapi itu semua tidak terlalu mempengaruhi pertumbuhan Lia. Sehingga Lia mempunyai kondisi fisik yang cukup bagus pada remaja seusia Lia.
c.       Keadaan Keluarga
Di lihat dari keadaan keluarga Lia dapat di simpulkan bahwa keluarga Lia tergolong berkecukupan walupun ayahnya hanya seorang nelayan dan menanggung biaya hidup orang tuanya dan satu orang iparnya.
d.      Tingkah Laku Sosial
Di lihat dari tingkah laku social di atas dapat di simpulkan bahwa Lia awalnya anak yang ramah dan terbuka pada keluarganya maupun di lingkungan sekitar rumahnya.Namun, setelah Lia melanjutkan sekolah di Samarinda Lia menjadi selalu merasa minder terhadap teman-teman sekolanya.

3.      Diagnosis
Diagnosis memiliki arti suatu upaya untuk mengenal, menetapkan atau menentukan sifat, serta hakekat dalam suatu peristiwa melalui pengamatan terhadap gejala.

Berdasarkan dari hasil analisis dan sintesis diatas yang menjadi penyebab permasalahan Lia adalah selalu merasa minder terhadap teman-teman di sekolahnya.
4.      Prognosis

Dilihat dari masalah yang dihadapi oleh Lia tersebut, maka dapat digunakan beberapa alternatif bantuan untuk membantu menyelesaikan masalahnya tersebut, yaitu dengan dilakukannya konseling individu untuk memberikan pengertian dan alternatif bantuan kepada konseli mengenai kesulitan belajar akibat rasa minder.

5.      Treatment
Verbatim

Tempat                  : di ruangan BK
Tanggal                 : 10 oktober 2012
Waktu                   : pukul 11.09 -11.40

1.      Konseli                  : selamat siang bu.
2.      Konselor                :selamat siang juga Lia, silahkan duduk Lia (sambil tersenyum)
3.      Konseli                  : ia bu terima kasih, maaf bu sebelumnya telah mengganggu jam istirahat ibu, mmm….. ( dengan wajah kebingungan )
4.      Konselor                : oohh,… ia tidak apa-apa Lia, kebetulan ibu juga tidak sibuk. ( sambil tersenyum).” Apa kabar Lia hari ini ” ??
5.      Konseli                  :” lumayan baik bu”. (dengan suara pelan)
6.      Konselor                :” lumayan baik” ??
7.      Konseli                  : ia bu. saya sedang mengalami masalah, yahh. . ( menghela nafas dengan panjang) untuk itu saya datang kemari menemui ibu dan saya ingin menceritakannya kepada ibu.
8.      Konselor                : “ ooohhh” boleh Lia. Silahkan,Lia mau cerita apa ?? (dengan sikap menerima)
9.      Konseli                  : Duhhh . ..  (dengan wajah kebingungan) saya bingung bu harus mulai dari mana tapi mungkin ibu sudah mendengarnya dari teman-teman sekolah atau dari guru-guru sekolah. (dengan wajah yang lemas)
10.  Konselor                : “ eemm . . “ ibu mengerti. Coba Lia jelaskan dengan pelan.
11.  Konseli                  : baik bu. Saya akan coba lakukan.
12.  Konselor                :” ok”. Kalau begitu ibu akan mendengarkan cerita Lia dan apa sebenarnya yang sudah mengganggu Lia saat ini.
13.  Konseli                  : begini bu. (agak ragu) sejak saya masuk ke sekolah ini saya merasa minder dengan teman-teman yang ada di sini.
14.  Konselor                : “emmm . . .terus . “
15.  Konseli                  : jadi, saya merasa bahwa saya tidak pantas berada di sekolah ini. Karena saya bukan dari anak orang kaya melainkan hanya anak dari seorang nelayan.
16.  Konselor                : lalu bagaimana?? (pertanyaan terbuka)
17.  Konseli                  : lalu , , saya terus merasa malu dan minder yang semakin hari terus meningkat       dan saya sadar ini mempengaruhi dalam proses belajar saya.
18.  Konselor                : merasa minder ? bagaimana bisa kamu memiliki rasa minder terhadap teman-teman kamu, ??
19.  Konseli                  : Karena saya pernah menyapa salah satu siswi di sekolah ini. Tapi dia tidak menghiraukan saya. Jadi saya berfikir bahwa mereka hanya ingin berteman pada sesamanya dan mereka semunya sombong.
20.  Konselor                : emm , ,  jadi begitu kejadiannya, , tapi mengapa kamu bisa langsung menyimpulkan bahwa mereka seperti yang kamu bilang tadi itu..??
21.  Konseli                  : eeemmmm , , , , (lia pun terdiam dan tidak menjawab pertanyaan)
22.  Konselor                : emm,, baiklah jika kamu tidak ingin menjawab pertanyaan ibu,,, trus apa yang kamu rasakan setelah kejadian itu?
23.  Konseli                  : saya jadi malu bu,,, (dengan wajah menunduk)
24.  Konselor                : terus apa yang kamu lakukan setelah kamu malu??
25.  Konseli                  : “ saya lebih menutup diri, minder dan saya lebih sulit untuk bersosialisasi kepada temen-teman.
26.  Konselor                : apa dengan begitu kamu merasa lebih baik atau lega ?? (pertanyaan terbuka)
27.  Konseli                  : emm . . (tertunduk dan diam sejenak)
Tidak bu, malah itu semua membuat saya merasa terisolik dan merasa di tolak menjadi lebih kuat.
28.  Konselor                : kalau begitu kamu harus bisa membuka diri dan mulai mencoba bergaul pada teman-teman kamu di sekolah. Dan kamu harus bisa mulai untuk menerima teman-teman yang ada di sekitarmu.
29.  Konseli                  : tapi bu, , , bagaimana caranya saya memulai itu semua ?
30.  Konselor                :  kamu cobalah secara perlahan menyapa salah satu teman kamu, mungkin kamu bisa memulainya dengan teman sebangkumu.
31.  Konseli                  : tapi bu, saya takut. Jika saya menyapanya dia juga tidak menghiraukan saya.
32.  Konselor                : jangan takut Lia, kamu harus bisa mencobanya bagaimana kamu akan tahu bagaimana nantinya jika kamu tidak pernah mencobanya.
33.  Konseli                  : baiklah bu saya akan mencobanya, , ,
34.  Konselor                ; nahh , , (dengan sedikit tersenyum) begitu donk Lia. Kamu juga harus bisa mensuport dirimu sendiri. Okkk , ,
35.  Konseli                  : baiklah bu saya akan mencoba saran-saran yang ibu berikan.
36.  Konselor                : baiklah kalau begitu . . heemm , , bagaimana persaan Lia sekarang ?
37.  Konseli                  : eeemmm ,  , Alhamdulillah bu saya mersa sedikit lega setelah saya menceritakannya ke pada ibu.
38.  Konselor                : syukurlah jika seperti itu.
39.  Konseli                  : emmm, , Sebelum dan sesudahnya saya mengucapkan terimah kasih kepada ibu.
40.  Konselor                : ia Lia  sama-sama. (dengan tersenyum). Ibu juga berterima kasih ke pada Lia karena sudah mempercayai ibu.
41.  Konseli                  : ia bu sama-sama. tapi bu, apakah saya bisa menemui ibu lagi di lain waktu??
42.  Konselor                : (tersenyum) . .  tentu saja Lia. Kamu dapat menemui ibu di lain waktu nantinya.
43.  Konseli                  : baiklah bu. Saya akan memghubungi ibu lagi jika saya ingin bertemu dengan ibu.
44.  Konselor                : ia Lia , ,
45.  Konseli                  : kalau begitu saya pamit dulu ya bu , ,
46.  Konselor                :bu,Lia harus bisa bangkit dari masalah yang sedang Lia hadapi untuk tidak minder kepada teman-teman Lia karena hanya Lia lah yang bisa menyelesaikannya,cuman Lia yang  mengerti diri Lia,Dan ibu akan senang jika lia sering kemari dan bercerita dengan ibu.  Hati –hati di jalan yah, lia .
47.  Konseli                  :Baik bu,, Terima Kasih. assalamualaikum.
48.  Konselor                : walaikum salam.

6.      Follow up
Secara keseluruhan konseli sudah secara suka rela dan terbuka dalam mengungkapkan masalahnya. Hal ini merupakan suatu hal yang baik, karena dengan sikap suka rela dan terbuka proses konseling akan lebih mudah dilaksanakan. Konseli juga sudah mau berusaha mengatasi kurangnya minat dan berusaha mengurangi sikap buruknya dalam hal tidak mau membuka diri atau minder. Hal ini merupakan suatu hal yang positif bahwa konseli memiliki keinginan yang kuat untuk memecahkan masalahnya. Dengan adanya konseling konseli menjadi lebih termotivasi untuk segera lepas dari masalah  kesulitan belajar akibat rasa minder. Konselor dan konseli memutuskan untuk melakukan konseling lanjutan di lain waktu sesuai dengan kesepakatan mereka. Dan konseli berjanji akan membuka diri atau mencoba menerima teman-teman yang ada di sekitarnya.
BAB IV
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
1.      Lia tidak tinggal bersama kedua orang tuanya karena jarak antara sekolah dan rumahnya terlalu jauh.
2.      Lia merasa minder (kurang percaya diri), sehingga ia mengalami kemunduran dalam prestasinya karena susah bersosialisasi dengan lingkungannya.
3.      Setelah melakukan konseling, Lia mulai membuka diri dan mau menerima teman-temanya.

B.     SARAN
1.      Untuk konseli, harus terus mampu memotivasi diri, sehingga minat belajar tidak menurun.
2.      Untuk konselor, sebaiknya mempererat hubungan antara konselor dan konseli, agar konselor mendapat kepercayaan penuh dari konseli terkait penyelesaian masalah yang sedang dihadapi.
3.      Untuk orang tua, sebaiknya lebih memahami masalah apa yang sedang dihadapi oleh anak.
4.      Untuk guru wali kelas, sebaiknya guru wali kelas lebih memahami dan dapat memngetahui apa yang terjadi pada siswa-siswi mereka. Dan dapat mengenal mereka lebih dalam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar